Selasa, 27 September 2016

Bergerak, Cara Sedehana Menjaga Detak Jantung Sehat

http://impossiblemomisme.blogspot.com



Setiap tahun penyakit jantung dan pembuluh darah bertanggung jawab atas 17,5 juta kematian di usia produktif, bahkan tahun 2030 diperkirakan angkanya menjadi 23 juta.


Jantung sehat merupakan cermin gaya hidup sehat dambaan setiap insan. Bagaimana tidak? Sering kita mendengar cerita tentang orang yang tiba-tiba dilanda 'angin duduk', sakit dada hebat, yang tidak jarang berakhir tragis.  Kematian atau (jika beruntung) 'hanya' mati sebelah alias stroke. Sebuah pengalaman yang jauh dari harapan. Padahal selama ini orang tersebut dikenal sehat, bugar dan rajin berolahraga. Apa yang salah? 

Kabar baiknya, kejadian ini dapat dicegah. Semua orang dapat melakukannya, karena perubahan yang dilakukan sederhana. Cukup dengan modifikasi gaya hidup setiap hari.  

Modifikasi gaya hidup dapat mengurangi risiko penyakit jantung dan stroke hingga 80%,

Sayang, hanya satu dari 4 orang yang mengetahuinya.
Sumber: www.heartandstroke.com


Gangguan jantung, ternyata akibat dari kurang gerak. Tentunya, tidak asal gerak, bukan gerak sembarang gerak. Gerak yang sederhana, tetapi harus teratur, inilah kuncinya. 

@cahayaetcipta
Penyakit jantung adalah pembunuh nomor satu, dalam segi jumlah maupun kecepatan waktu (mematikan).


Apa saja yang perlu bergerak demi jantung sehat?

Aktifkan Gerak Saluran Cerna Dengan Serat


Sistem pencernaan harus aktif bergerak. Bagaimana caranya? 




Diet sehat adalah salah satu senjata ampuh untuk melawan penyakit jantung dan pembuluh darah. Lewat makanan, baik jenis dan jumlahnya, kita dapat menekan faktor-faktor risiko lain. Dengan cermat memilih hidangan sehat, kita mampu mengendalikan: kolesterol, tekanan darah, diabetes dan kegemukan. 


Prioritaskan santapan yang:



1. Mengandung banyak serat, seperti buah-buahan dan sayuran, Serat akan memacu usus untuk bekerja dengan aktif.


2. Indeks glikemiknya rendah,


3. Rendah kalori,




4. Pilih diet yang menekankan asupan sayur, buah dan gandum utuh: termasuk produk susu rendah lemak, ikan, minyak sayur dan kacang-kacangan,


5. Batasi asupan yang manis-manis, minuman bersoda, dan daging merah,
Setidaknya 68 persen dari manula di atas 65 tahun yang menderita diabetes melitus meninggal karena penyakit jantung. Faktor risiko lainnya seperti tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, merokok dan kegemukan serta kurangnya kegiatan fisik akan sangat meningkatkan berkembangnya penyakit jantung dan pembuluh darah pada penderita diabetes.
6. Hindari lemak, terutama lemak jenuh dan lemak trans. Ganti margarin dan lemak putih, contohnya dengan minyak zaitun.

7. Perbanyak asam lemak tak jenuh, khususnya rantai ganda. Biasanya banyak dijumpai pada protein hewani berdaging putih, seperti ikan-ikan laut dalam. 

8. Kurangi garam dan gula. Keduanya berpotensi menimbulkan sumbatan (plak) serta membuat dinding pembuluh darah menjadi kaku (keras). Lemak yang menumpuk di pembuluh darah adalah malapetaka yang mengintai. Cepat atau lambat ini akan memicu serangan jantung atau stroke. 

Sesuaikan diet dengan kegiatan fisik, sehingga jumlah kalori yang masuk seimbang dengan yang keluar. Kita dapat mengetahui dengan menghitung berat badan ideal.

  • saluran cerna bergerak
    Diet tinggi serat, pelindung jantung sehat.

Manajemen Stress, Bebaskan Gerak Aliran Darah Ke Otak

Otak juga perlu bergerak. Gerak yang dimaksud, berkaitan dengan kelancaran aliran darah ke otak. Mengingat, organ yang satu ini, sangatlah peka terhadap kekurangan oksigen. 

Bagaimana agar alirannya bebas? 

Salah satunya, dengan mengurangi stress.

Hubungan antara risiko penyakit jantung koroner dan stress pada kehidupan seseorang. Misalnya, orang yang stress bisa makan berlebihan, mulai merokok,  bahkan merokok lebih banyak daripada biasanya. 

Riset menunjukkan bahwa reaksi stress pada kaum muda bisa memperkirakan risiko tekanan darah pada saat mereka berusia paruh baya. 

Jika Anda perokok, berhentilah. Dalam rokok, terkandung bahan-bahan yang merusak kelenturan pembuluh darah.

Adakah anggota keluarga yang merokok? Anjurkan segera berhenti. Sesuatu yang perlu perjuangan berat. Tapi, akan lebih berat lagi untuk bisa sembuh, jika sekali saja terkena serangan jantung, stroke atau hidup dengan penyakit jantung yang kronis. 

Teratur Beraktivitas, Bergerak, Jadikan Prioritas


jantungku sehat dengan bergerak
Sederhana, tapi penuh makna.

Banyak bergerak: bermain di ruang terbuka bersama keluarga, 
melakukan pekerjaan rumah tangga, bersepeda ke tempat kerja, berjalan kaki, naik-turun tangga adalah cara yang sederhana dan murah untuk menjaga kesehatan jantung kita.

Selanjutnya, tubuh harus tetap aktif dengan melakukan kegiatan, dengan bermacam-macam gerakan. Dengan banyak bergerak, kita bisa mengendalikan tekanan darah serta menjaga keseimbangan berat badan. 

Bergerak tidak selalu berarti melakukan aktivitas olahraga. Semua kegiatan yang memompa tubuh untuk selau bergerak sangatlah dianjurkan. Misalnya perbanyak berjalan kaki ke pasar, kantor, bahkan di tempat parkir. Pilih-naik turun tangga ketimbang menggunakan lift. Mengulek bumbu dapur daripada menggunakan blender juga efektif. Kalau itu semua dilakukan secara teratur akan sangat membantu kesehatan jantung kita.  

Tentu saja yang ideal adalah olahraga teratur, namun tidak berlebihan.  

Intinya, adalah kualitas bukan kuantitas. Lama olahraga yang baik adalah sekitar 40 menit.
Semakin berumur, toleransi kerja jantung semakin rendah. Salah satu cara mengukur detak jantung maksimum yang ditolerir saat aktivitas fisik.

220 - Umur (tahun) = Detak Jantung per menit maksimum
Gaya hidup sedentary, artinya terlalu banyak duduk seperti pegawai kantor, sangatlah mengurangi kesempatan untuk bergerak. Manfaatkan kesempatan yang ada untuk bergerak, hindarkan elevator, gunakan tangga, makan siang keluar kantor dengan berjalan kaki.  

Sebaliknya terlalu banyak gerak, seperti olahraga yang berlebihan juga tidak baik. Detak jantung menjadi terlalu cepat, bahkan bisa berakibat kematian. 

Pentingnya keteraturan, kualitas, bukan kuantitas. Penelitian menunjukkan bahwa olahraga 40 menit, tiga atau empat kali seminggu, dapat menurunkan tekanan darah, menurunkan kolesterol dan menjaga berat badan dalam tingkat optimal. 

Monitor berat badan, usahakan stabil dalam rentang berat badan ideal.

Berat badan ideal untuk pria  =     [Tinggi badan (cm) - 100] - 10%  
Berat badan ideal untuk wanita = [Tinggi badan (cm) - 100] - 20%


Sayangi jantung, dengan memeriksakannya secara berkala. Dimulai dengan cara sederhana, periksa detak nadi, ukur tekanan darah hingga kontrol ke dokter atau rumah sakit. Pemeriksaan teratur akan mengurangi risiko serangan jantung. Sebaiknya, kita menjaga tekanan darah kita dalam kisaran normal. 


http://impossiblemomisme.blogspot.com
Kisaran tekanan darah sesuai umur. Sumber: lifescript.com

Segera Bergerak, Jika Terjadi Serangan


Every second counts
Setiap detik begitu berharga
Kehilangan waktu seperti memperbanyak kematian otot jantung.

Siapkan kerabat untuk bergerak cepat. Segera berikan pertolongan pertama. Salah satunya, dengan obat pembuka aliran darah, yaitu ISDN (atau Cedocard, nama yang lebih familiar). Segera bawa ke rumah sakit, atau dokter. Jangan menunggu, sekali lagi, setiap detik sangatlah berharga. Semakin cepat, kemungkinan pemulihan makin tinggi.

Perubahan gaya hidup, memperbaiki kesehatan jantung kita.
Risiko stroke berkurang 48% pada orang yang sangat sehat,

Risiko stroke berkurang 27% pada orang kebanyakan,
Risiko stroke berkurang 8%, setiap perbaikan gaya hidup sehat.
Sumber: American Heart Association Journal Stroke; M.Cushman

Peran gaya hidup sehat sangat berpengaruh pada kesehatan jantung. Cara hidup kita, merupakan perisai terkuat melawannya. Itu semua bisa kita raih. Kemauan menentukan nasib jantung kita. 

Ubahlah segera! Karena..."every second counts"





Minggu, 04 September 2016

Survive Dalam Persaingan Global, Identifikasi dan Optimalkan Bekal Sejak Awal


“Pemegang gelar S1 di negara kita ternyata masih kalah bersaing  dibandingkan D2 keluaran negara tetangga”. Kata-kata sederhana yang cukup membuat hatiku tetcekat. Percaya gak percaya hal itu ada benarnya. Jadi salahnya dimana? Pertanyaanku pada diri sendiri.

Genderang kompetisi global telah terbuka lewat gerbang MEA. Apakah saya sudah siap? Kalau pun sudah, bagaimana dengan anak-anak kami nantinya? Bagaimana kami menyiapkan mereka? Sanggupkah? Langsung deh serasa bintang2 bertaburan di atas kepalaku.

Dulu anak-anak dengan cepat akan menjawab ingin jadi dokter karena ingin menolong orang lain, atau insinyur agar bisa membuat jembatan atau gedung, atau pekerjaan keren lainnya. Tapi jaman berubah. Acara di televisi dan media lain bisa mempengaruhi jawaban anak sekarang. Jawaban cenderung berubah-ubah. Hari ini bilang pengin jadi chef karena melihat kehebatan chef cilik di TV,  bulan berikutnya bisa saja bilang ingin jadi pembalap melihat pemenang balap mobil Formula selalu dielu-elukan.

Kita semua CERDAS

Pada acara Talkshow "Persiapan Pendidikan Anak Menghadapi Persaingan Global", Psikolog Elizabeth T. Santosa menjelaskan  pentingnya mengetahui bakat dan minat anak sejak dini. Dikatakannya, orang tua penting mendukung potensi dan bakat anak. Jangan sampai waktu anak-anak terbuang sia-dia dengan  kuliah di bidang yang tidak sesuai dengan bakat dan minatnya, tambahnya.

Bila ditanya apa bakat anak saya, saya agak grogi juga. Sudah sering sih dengar bahwa bakat itu penting untuk mendukung seseorang dalam mengejar cita-cita. Dan banyak pula yang menganjurkan agar anak saya menjalani semacam tes untuk mengetahui bakatnya. Saya sendiri secara pribadi kurang tahu apa bakat saya. Yang jelas saya suka pelajaran matematika dan IPA, diterima dan kuliah di universitas negeri  sampai lulus S2. Tapi, apakah itu bakat dan cita-cita saya? Entahlah.

Waktu masih balita anak saya senang sekali menyanyi dan hafal puluhan lagu anak-anak. Tapi setelah remaja sekarang dia lupa semua lagu itu dan jika menyanyi suaranya tidak sebagus dulu. Lalu saya dia saya suruh belajar piano tapi setelah dua tahun dia bosan dan tidak mengalami banyak kemajuan. Apakah dia kurang berminat atau berbakat? Kurang tahu juga saya.

Elizabet Santosa mengutip pernyataan Profesor Howard Gardner yang mengatakan bahwa setiap anak mempunyai kecerdasan majemuk. Ada delapan macam kecerdasan dan setiap anak mempunyai semua itu. Tetapi biasanya satu atau dua saja yang menonjol sedangkan yang lain hanya menunjang dalam upaya mencapai cita-cita sesuai dengan kecerdasan itu. Kedelapan kecerdasan itu adalah kecerdasan linguistik, matematis-logis, spesial, kinestetik, musikal, interpersonal, intrapersonal dan naturalis.

Kecerdasan linguistik atau bahasa  bisa mengantar anak menjadi pembawa acara, pendongeng, wartawan, editor atau aktor.

Kecerdasan matematika logis memungkinkan anak menjadi ahli matematika, ahli statistik, programer, peneliti maupun pengolah data. Kecerdasan visuo-spasial adalah bekal untuk meraih cita-cita sebagai pilot, perancang mode, arsitek atau pelukis.

Kecerdasan kinestetik menunjang orang yang bercita-cita menjadi olahragawan, penari atau mekanik.

Kecerdasan musikal tentu saja sangat cocok bagi anak yang ingin jadi penyanyi, pemain musik atau pencipta lagu.

Kecerdasan interpersonal atau kemampuan memahami maksud, motivasi dan suasana hati orang lain memberi peluang kepada anak yang ingin bekerja di bidang public relations, marketing, pekerja soal dan lainnya.

Kecerdasan intrapersonal adalah kemampuan mengenal diri sendiri dan pemiliknya bisa menjadi filsuf, peneliti atau penulis.

Sedangkan kecerdasan naturalis atau kemampuan mengenali alam sekitar adalah bekal bagi seorang ahli biologi, petani, pekebun dan sebagainya.

Untuk mendukung cita-cita anak orang tua perlu: mengidentifikasi potensi anak, mengarahkan dan membina serta memotivasi anak, ujar Elizabeth mengutip Howard.

Rumput tetangga seringkali tampak lebih hijau daripada halaman sendiri. Demikian juga, saat membandingkan bakat anak. Terkadang kita merasa anak kita ‘kurang’ ini itu. Padahal banyak jalan menuju Roma, setiap anak punya kecerdasan yang berbeda.

Setelah mengikuti talkshow tersebut, saya mencoba mengaplikasikan pada anak saya yang sekarang sudah duduk di klas 2 SMP. Pertama-tama saya meminta ia untuk membaca sebuah cerpen dan menceritakannya kembali dengan bahasa sendiri. Hasilnya dia saya beri angka 8 untuk skala dari 1 sampai 9. Lalu saya minta dia mengerjakan soal matematika yang sudah diajarkan di sekolah dan hasilnya 5. Seterusnya saya minta dia melempar potongan kertas ke dalam keranjang sampah dari jarak 2 meter dan nilainya 6. Soal musik seperti saya katakan di atas saya beri nilai 7 juga. Untuk menguji kecerdasan interpersonal dia saya suruh meminjam sejumlah barang ke tetangga yang tidak dia kenal dengan baik dan hasilnya 5. Selanjutnya dia saya minta dia menuliskan apa yang dia rasakan saat itu dan hasil tes interpersonal ini adalah 7. Terakhir saya tunjukkan sejumlah gambar pohon dan binatang kepadanya dan hanya 60 persen yang dia kenali.

Jadi saya berkesimpulan bahwa anak saya punya bakat di bidang bahasa dan musik. Maka saya akan memotivasi dua agar banyak berlatih menulis puisi dan cerpen serta belajar alat musik lagi, apalagi dia pernah bilang ingin belajar gitar.

Jadi sekarang sudah tahu kan kalau sekolah formal saja tidak cukup. Anak perlu didanai untuk mengasah kecerdasannya. Untuk itu menyiapkan dana pendidikan sedini mungkin itu penting. Menabung adalah cara terbaik untuk menyisihkan dana bagi pendidikan anak.

Jika kita menyisihkan dana untuk biaya pendidikan anak, tentu saja hal ini sifatnya jangka panjang. Sebisa mungkin dana yang kita sisihkan ini disimpan dengan baik tanpa kita tergoda mengambilnya untuk keperluan selain biaya pendidikan. Untuk itulah kita harus memilih jenis penyimpanan yang tepat.

Siapkan bukan sisihkan apalagi sisakan

Nah ini yang salah kaprah. Iyalah, pendidikan anak (kalau memang)  adalah prioritas utama, modal dananya harus disiapkan. Sudah ada jatahnya dari penghasilan tiap bulan, disiapkan sejak awal, bukan dari hasil menyisihkan penghasilan yang tersisa dari pengeluaran lain.

Mengingat kebutuhan modal yang besar, dana harus disiapkan secara konsisten. Jangan sekedar musiman. Sedikit demi sedikit lama lama menjadi bukit.

Masih terasa berat?

Cara yang populer saat ini dengan mengikuti asuransi pendidikan.

Tak kenal maka tak sayang

Begitu mendengar kata asuransi, mimik kita langsung berubah. Asumsinya bakalan keluarkan uang untuk sesuatu yang gak jelas.

Mungkin ini yang namanya tak kenal maka tak sayang. Atau pikiran kita kurang panjang membayangkan manfaatnya di masa yang akan datang. Maunya yang berefek segera. Padahal kalau ikutan MLM atau arisan kita sering gampangan saja ikutan. Padahal belum tentu untung, bisa rugi malah.

Nah bagaimana kalau kita, asumsi saja ikutan arisan alias asuransi pendidikan. Perlahan asal konsisten, dananya bertahan. Bahkan ada value lebih yang bisa didapatkan.

Mendengar nama Jiwasraya, rasanya seperti baru kenalan. Padahal dia sudah ada sejak jaman Belanda dulu. Asuransi pelat merah 100% punya negara kita, tentu sudah ada reputasinya. Kalau tidak dipercaya, tentunya tak akan bertahan hingga kini, mungkin sudah bubaran jauh2 hari. Jadi kalau ada keraguan, mungkin bisa dibalik pertanyaan. Apakah kita memang niat persiapkan investasi pendidikan? Mungkin kita yang ambigu, paham punya kebutuhan tanpa punya kemauan.

Sebagai asuransi yang telah bertahan lebih dari seabad, reputasinya tentu tidak perlu dipertanyakan. Untuk pendidikan buah hati, tersedia produk JS Prestasi. Nantinya anak kita akan mendapatkan manfaat investasi seperti beasiswa.

→Dengan value, nilai uang asuransi yang bertambah 5% dari awal secara majemuk per tahun.

→Selama 5 tahun, si anak akan mendapat ‘beasiswa’ setiap bulan.

→Bebas premi berkala tiap jatuh tempo pembayaran manfaat

→Jika tertanggung karena kecelakaan, ahli waris bakal menerima manfaat 200%; sedangkan jika bukan karena kecelakaan, manfaatnya 100% uang asuransi kepada ahli waris.

→Jika tertanggung mengalami cacat tetap, akan terbebas dari kewajiban pembayaran premi lanjutan. Manfaat tahapan dan biaya kuliah tetap dibayarkan sesuai dengan jatuh tempo manfaat.

→Jika calon penerima beasiswa ini meninggal, pemegang polis dibebaskan dari pembayaran premi lanjutan. Seluruh premi standar tetap kembali kepada pemegang polis, dengan manfaat tahapan dan biaya kuliah per bulan tetap dibayarkan sesuai dengan jatuh tempo manfaat.

Untuk mencapai hasil optimal, kita harus konsisten.

Bagaimana supaya konsisten?

Jiwasraya memperbanyak cara agar konsumennya terbiasa menyiapkan tabungan tanpa merepotkan. Seperti dengan auto debet maupun ATM. Perwakilannya pun sudah tersebar di seantero nusantara. Untuk lebih jelasnya, bisa menghubungi  (021) 1500 151.