Rabu, 01 Juni 2016

Momen Bahagia Di Rumah, Setiap Hari Serasa Anniversary

"Aduh...Cipta!" teriakku spontan saat aku merasakan sebuah tinju mendarat di pipiku. Padahal aku sedang mengemudikan mobil di tengah-tengah kemacetan kota Jakarta saat konsentrasi penuh aku perlukan. Aku buru-buru mengurangi kecepatan,  untuk menjaga keseimbangan. 

Anak lelakiku, duduk di jok belakang sambil berjingkrak-jingkrak tanpa alasan jelas. Dialah yang mendaratkan tinju itu. Di usianya yang menginjak 11 tahun,  postur yang sudah melebihiku, bisa dibayangkan seperti apa rasanya dipukul di pipi. Untung aku sudah terbiasa dengan momen-momen seperti itu dengannya sehingga sejenak kemudian aku sudah bisa menenangkan diri lagi. 

Bahagia di RumahSebagai orangtua yang dikaruniai anak berkebutuhan khusus, anak dengan perilaku dan kemampuan komunikasi yang sangat berbeda. Biasanya hiperaktif,  banyak bergerak, seperti tidak pernah merasa lelah. Atau bahkan sebaliknya, hipoaktif, kurang bergerak.  

Anakku cenderung enggan melakukan kontak mata dengan orang lain. Sehingga kurang dapat berkomunikasi padahal kontak mata sangat diperlukan. Kebanyakan mampu mengucapkan kata-kata yang tidak jelas bunyinya,  sehingga orang sering menyangka ia tidak mendengar. Padahal, sebaliknya anak berkebutuhan khusus sangat peka pendengarannya. Ia kadang-kadang mendengar bunyi yang sangat halus, yang tidak terdengar orang lain. Bunyi-bunyi yang tidak disukainya, seperti suara kipas angin, terkadang menjadi pemicu  melakukan tindakan tak terduga seperti menutup telinga atau  memukul badannya sendiri. 

Dalam keseharian, aku juga tidak tahu apa yang menyebabkan dia berbuat begitu. Barangkali dia kesal kendaraan kami berjalan tersendat-sendat karena macet. Bagi  yang tidak terbiasa dengan kejadian seperti ini, akibatnya mungkin fatal. Tapi sebaliknya, aku sudah lama mengalaminya. Jadi sudah antisipasi apa yang harus dilakukan bila terjadi demikian .  

Berikut yang biasa kami lakukan, sebagai orangtua :

Nyanyikan lagu-lagu kesukaan si kecil. Anak-anak biasanya sangat suka menyanyi atau mendengar lagu favoritnya. Sebagai ibu dengan anak berkebutuhan khusus, aku harus sering berhubungan dengannya lewat lagu karena komunikasi verbal adalah salah satu hambatan utama baginya. Misalnya, untuk mengajarnya berhitung saya nyanyikan lagu "Satu Satu Aku Sayang Ibu..."  Kalau dia tampak senang, aku akan terus menyanyikan lagu itu, sampai dia sendiri mampu mengucapkan lirik lagu tersebut dengan baik.   

Diperlukan kesabaran dan ketekunan yang luar biasa untuk mendapatkan hasil dari upaya ini. Anakku hiperaktif, kurang konsentrasi, dan mengalami kesulitan bicara. Tapi rasanya seluruh dunia tersenyum kepadaku manakala anakku berhasil mengucapkan satu kata saja dari lirik itu dengan benar. Suatu momen bahagia yang tiada tara bagiku!

Bahagia di Rumah
Orangtua sebagai teman si buah hati. Dalam menghadapi anakku, aku sering memposisikan diriku sebagai orangtua sekaligus teman. Aku temani dia berjalan-jalan di kompleksku setiap sore layaknya teman sebaya. Aku makan bersamanya dan akan tertawa bersamanya kalau dia tampak menyukai satu jenis makanan tertentu.  Peristiwa seperti itu aku manfaatkan untuk mengajarinya menyebutkan nama makanan tersebut.  Dan aku berharap dia selanjutnya akan bisa mengucapkannya saat dia minta lagi.
Bahagia di Rumah

Visi  yang ingin dicapai disesuaikan perkembangan, prinsipnya agar lebih mandiri. Menjadi orangtua anak berkebutuhan khusus  diperlukan kesabaran. Jika mengharapkannya mampu hidup mandiri kelak, maka misi kita tentunya adalah mengajarinya segala ketrampilan pokok untuk menjadi orang mandiri seperti makan, mandi, dan berpakaian sendiri. Ini mutlak, karena orangtua tidak akan selamanya mendampingi si anak.

Ambil hikmah dari segala kesulitan. Anak yang tidak atau kurang mengenal rasa takut, rasa sakit, dan sopan santun terkadang sering membahayakan dirinya atau membuat orangtua salah tingkah, menanggung malu, atau bahkan dianggap sebagai orang tidak dapat mendidik anak.. Aku harus mengawasinya setiap saat agar tidak jatuh karena memanjat pohon atau terserempet motor karena berjalan terlalu ke tengah jalan. Seperti  mencegahnya memukul badan sendiri apabila dia sedang marah. Anakku sangat antusias dengan minuman, adakalanya di pesta ia mendadak mengambil minuman orang lain . Itu semua terkadang sangat menyesakkan dada. Tapi aku sadar bahwa segala sesuatu ada hikmahnya. Aku jadi harus banyak belajar dan berinovasi untuk mengatasi semua itu dan manakala aku merasakan hasilnya, maka aku justru merasa bersyukur karena dengan begitu aku jadi lebih sabar, lebih mawas diri, serta tidak mengambil sikap bermusuhan terhadap orang yang tidak memahami masalah pribadiku.

Bahagia di Rumah

Hari demi hari bersamanya sangat bermakna. Tiada hari terlewatkan tanpa pelajaran. Anakku lebih membuka mata akan sesuatu yang baru. Setiap momen bagai kejutan, layaknya anniversary. Sederhana, tapi secara kasat mata "priceless, precious" tak ternilai. Hari ketika harus menemaninya di tempat terapi adalah saat aku dapat bertukar pikiran dan pengalaman dengan sesama orangtua anak berkebutuhan khusus. Hari saat menemaninya jalan-jalan sore ibarat berjalan-jalan di taman surgawi. Hari saat harus merawatnya ketika dia sakit adalah momentum untuk menunjukkan kasih sayangku yang tiada terbatas kepadanya.  Yah, hari kapan saja aku bersamanya, di dalam ataupun di luar rumah, adalah momen yang membahagiakan. hari yang layak dirayakan.       



  




Tidak ada komentar :

Posting Komentar