Sabtu, 11 Juni 2016

Langkah Hitam Putih Hannie Hananto Demi Go International

Menyaksikan coretan saya di sosial media, dijiplak habis-habisan,  gak keruan rasanya. Apalagi  pelakunya adalah sahabat yang dikenal. "Seperti berkenalan dengan serigala berbulu domba", keluh-kesahku saat itu. Kesal, galau, semua yang buruk-buruk menghantui asaku.

Beruntunglah, teman yang tadinya kurang saya kenal, menghampiri bahkan mengajak untuk 'move-on' . "Tetaplah hasilkan suatu yang positif", nasihatnya sambil bercanda. "Kena jiplak, tak akan pernah membuatmu kalah telak"...jleb! Emosi janganlah sampai mengalahkan inovasi, ucapan sederhana yang membuat saya kena batunya. 

"But, the show must go on!" jadi persis lagunya mendiang Fredy Mercurie. Kenangan yang terbangkit saat mendengar ucapan pemilik brand Anemone ini. Berhasil melenggang di Istanbul Modest Fashion Week 2016, membawa cita rasa Indonesia ke tingkat Indonesia. Hannie Hananto, kini duduk 'eye to eye' di hadapan kami komunitas Bloggercrony, berbincang dari hati ke hati, dipandu mbak Wardah Fajri. Bagaimana perjalanan langkah si Monokromatik ini?

hannie hananto


Sejak dicanangkannya Indonesia sebagai pusat fashion muslim tingkat Asia pada tahun 2018, dan pusat fesyen muslim dunia pada 2020 bisnis busana muslim di tanah air semakin menggeliat. Di mana-mana bermunculan para desainer yang mengkhususkan diri pada busana muslim. Bila mendengar kata busana muslim, yang terbayang dalam benak kita biasanya adalah busana muslimah yang menutup hampir seluruh tubuhnya, mulai dari kepala sampai dengan telapak kaki. Dan mungkin yang paling kentara adalah penutup kepala yang bisa disebut dengan jilbab atau hijab atau tudung.

Entah kebetulan atau tidak dengan fenomena ini, salah satu desainer terkemuka Indonesia, Hannie Hananto, namanya sedang berkibar saat ini dan beliau mengkhususkan diri dengan mendesain busana muslim dengan konsep minimalis.  Tapi dari ceritanya saat wawancara di Resto Ngalam, FX Sudirman beberapa waktu yang lalu, terungkap bawa ia menjadi desainer karena merasakan profesinya sebagai arsitek sangat menyita waktunya semenjak ia berkeluarga, apalagi setelah dikarunia dua orang anak.  Hampir tidak ada waktu lagi buat mereka berdua. Dengan dukungan sang suami, ia akhirnya memutuskan untuk fokus pada desain, khususnya busana muslim.

hannie hananto


Jejak Arsitek Menjadi Desainer

Dengan latar belakang arsitek, beralih menjadi desainer tentunya tidaklah terlalu sulit baginya. Keduanya sama-sama melibatkan ketrampilan menggambar dan menciptakan karya seni. Arsitek sendiri terdiri dari kata "ars" yang berarti seni. Apalagi, menurut ceritanya, sejak kecil ia memang gemar sekali menggambar.

Nama Hannie Hananto mencuat ketika ia berhasil menyabet tempat ke-2 pada sebuah kompetisi busana muslim yang diselenggarakan oleh Majalah Noor.  Rupanya konsep minimalis, desain yang didominasi dua warna dasar, hitam dan putih, berhasil memikat para juri. Desain yang tetap menjadi inspirasi favoritnya, hingga kini.

Sejak 2010, Hannie tidak mengawali karir sebagai desainer busana muslim hanya dengan warna hitam-putih saja. Semua warna menurut Hannie,  sesuai dengan desainnya. Tapi berkat nasehat mentornya, Irna Mutiara, ia teguh  memilih konsep monokromatik yang masih jarang di pasaran. Sejak itu, ia hanya menekuni desain dengan warna hitam putih. Ternyata, sambutan pasar sangat positif. 

Tantangan Di Tengah Keberhasilan


Dengan brand Anemone, perlahan tapi pasti, Hannie berhasil menembus pasar dengan meyakinkan  di seluruh Indonesia. Ia  bahkan sudah melakukan berbagai show di mancanegara seperti Amerika, Maroko Prancis dan Turki.  Di Istanbul Modest Fashion Week, Turki, bersama dengan lima designer lain dari Indonesia, Hannie sengaja membawa batik tenun ikat Kediri untuk menunjukkan citarasa lokal

Ia bergabung dengan APPMI (Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia) dan menjadi pendiri HijabersMomCom dan Anemone Fashion Muslim. Ia bahkan sudah menulis buku berjudul RemindMyself yang berisi berbagai kutipan dan ilustrasi berharga untuk mengingatkan dirinya sebagai muslimah.   

hannie hananto


Tapi keberhasilan juga berdampak negatif. Ada saja orang yang  membonceng ketenarannya dengan meniru atau menjiplak alias plagiat rancangannya.  Namun, katanya, ia tidak begitu risau dengan hal ini, karena ini menunjukkan bahwa desainnya unik. Sadar tidak dapat menghentikan penjiplak, Hannie semakin bersemangat, selalu bergerak cepat. Ia terus-menerus berinovasi dengan desainnya. Trend fesyen bergolak, tak mudah ditebak, "Ambil saja sisi positifnya", sambungnya. 

"Nilai suatu fesyen melalui proses panjang trial and error", pesannya. Ia yakin, dengan selalu membuat terobosan, orang tak akan bosan. Bahkan, dengan gayanya tersendiri, karakter brand akan mencuat ke permukaan, sesuai dengan kepribadian sang desainer. 

Terus Bergerak, Tidak 'Aji Mumpung'

Hannie tidak mudah terseret arus 'aji mumpung' yang sering menggoda desainer untuk memproduksi sebanyak-banyaknya di momen-momen tertentu seperti sekarang ini, Bulan Ramadan. Ia tetap setia pada mottonya untuk tidak memproduksi hasil karyanya secara besar-besaran. Seperti pada bulan-bulan lainnya, ia hanya membuat 6 atau 7 desain dengan total 150 busana saja . Untuk toko-toko besar sekalipun, ia membatasi cukup 60-80 gaun tiap bulan.

Tersirat alasannya, ia tidak mau kehilangan jatidiri dengan memproduksi secara obral. Karena nantinya, akan mengurangi mutu hasil karyanya. Paling banyak satu desain hanya 500 helai fesyen 'ready to wear' tapi tetap eksklusif. Pas dengan karakter wanita, yang tidak ingin ter"sama"kan, apalagi dalam hal busana. 

Hannie Hananto

Inspirasinya Demi Fesyen Indonesia

Pertumbuhan fesyen muslim Indonesia, memacu industri kreatif. Semakin banyak brand terlahir. Meski berulang kali dijiplak, sekalipun oleh banyak plagiat. Tapi jangan sampai kehilangan idealisme.

Seperti yang dirasakan mbak Hannie ketika go-international. "Banyak yang meremehkan desainer Indonesia", tukasnya. Cibiran yang selalu diingatnya, agar konsisten dengan idealisme. Desain dan gaya harus konsisten. Ingatlah, fesyen bagai duta, label  yang membawa nama bangsa.

Pertahankan branding, langkah kesuksesan penuh karakter. Demi desain Indonesia bisa bersaing, bahkan menjadi pusat fesyen muslim dunia. Pesan terakhir Hannie Hananto, yang menjadi impian saya, harapan kamu juga kah? 

Komitmen memberi inspirasi,
Konsisten berkarya,
Kepribadian dan keunikan, 
Karakteristik menuju kesuksesan.






Tidak ada komentar :

Posting Komentar