Jumat, 15 Juli 2016

Kecantikan Penuh Arti, Dari Hati Seorang Difabel


Cantik, satu kata berbagai makna. Cantik biasanya dikaitkan dengan bagian luarnya saja, padahal cantik itu ada jauh di dalam lubuk hati seseorang dan punya berjuta makna.

 Kita biasanya mengasosiasikan cantik dengan kecantikan fisik seseorang, wanita terutama.  Kita juga sering mendengar ungkapan “cantik alami”, “cantik dari luar”, “cantik dari dalam” dan lain sebagainya, dengan arti yang berbeda-beda menurut pengucapnya. Khusus untuk "cantik dari dalam” barangkali maksudnya adalah  kepribadian seseorang yang dapat menimbulkan efek suka, atau segan, atau kagum. 

 Kecantikan ini muncul dari dalam pribadi orang tersebut , berarti “dari dalam pribadi” seseorang.  “Cantik dari Hati”mungkin lebih dimaksudkan dengan jenis ini.
Namun bagi saya, “cantik” bisa diterapkan pada perbuatan apa saja oleh seseorang yang memberi efek positif kepada orang lain. Segala perbuatan positif yang bisa mendorong orang lain untuk berprestasi  di tengah-tengah segala keterbatasannya.  Saya ingin sedikit berbagi cerita mengenai beberapa orang Indonesia yang , meskipun menyandang   gelar “difabel”, berhasil meraih prrestasi gemilang di bidang masing-masing berkat kerja keras dan ketekunan mereka.   Keberhasilan mereka kiranya bisa menjadi pemicu bagi siapa saja, yang normal ataupun bermasalah secara fisik maupun non-fisik, untuk menggapai cita-cita setinggi mungkin. Berikut kisah mereka.
1.     Pesan Hati Sastrawati Lisan dari Malang

Dunia sastra Indonesia mengenal nama Ratna Indrawati Ibrahim sebagai perempuan yang produktif melahirkan cerita pendek dan novel.  Ia mengalami kelumpuhan sejak usia 10 tahun.  Sesuatu yang begitu mengguncang jiwanya sebagai anak yang baru saja menginjak usia remaja sampai-sampai ia pernah mempertanyakan ada-tidaknya Tuhan. 
Tapi ia tidak mau menyerah dengan keadaannya itu. Kebetulan keluarganya adalah pecinta buku. Sejak kecil ia sudah bergelut dengan berbagai jenis bacaan yang bisanya menjadi makanan orang dewasa. Dari situ ia menemukan jalannya untuk menjadi penulis. Dalam kegiatan sehari-harinya di atas kursi roda sejak lumpuh ia dibantu oleh seorang asisten sebagai juru ketiknya.  Maka ia menyebut dirinya sebagai “sastrawati lisan”.


Ratna yang lahir pada 1949 dan meninggal pada 2011 telah menghasilkan sekitar 400 cerita pendek dan cerpen. Ia juga mendirikan sebuah toko buku di samping rumahnya bernama “Tobuki” (Toko Buku Kita) sebagai ungkapan kecintaanya pada dunia perbukuan. Semasa  hidupnya, Ratna juga mendirikan organisasi dan sering mangadakan diskusi dengan aktivis, seniman dan mahasiswa di Kota Malang.

Prestasi Tak Pernah Down

Stephanie Handojo menjalani kehidupan yang berbeda dengan anak-anak pada umumnya karena ia mengidap downsyndrom atau kelambatan perkembangan jiawanya. Namun ia dapat membuktikan dirinya untuk berprestasi tinggi.



Stephani lahir pada 5 November 1991. Di bawah bimbingan dan kasih sayang kedua orangtuanya ia mulai mengikuti kegiatan positif di bidang olahraga seperti berenang dan bulutangkis. Bahkan saat menginjak usia 12 tahun, ia berhasil meraih juara 1 pada kejuaraan Porcada.  Pada 2011 ia terpilih mewakili Indonesia di ajang Special Olympics World 2011 di Athena, Yunani, Ia menyabet medali emas dari cabang renang nomor 50 meter gaya dada. Ia juga terpilih mewakili Indonesia untuk ikut membawa obor pada Olimpaide 2012 penyandang cact di London pada 2012.

 Si Cantik Tegar dari Bali

Selain Stephani Handoyo, Indonesia juga mempunyai atlet wanita difabel yang berprestasi di kancah international. Dialah Ni Nengah Widiasih, atlet angkat berat yang kehilangan kemampuan untuk menggunakan kakinya sejak umur 4 tahun, dan sejak itu ia duduk di kursi roda.  Ni Nengah lahir di Karangasem, Bali. Sejak kelas enam SD ia tinggal di asrama Yayasan Pembinaan Anak Cacat. Kini ia duduk di bangku SMA.


Atas saran kakaknya yang pelatih angkat berat, Ni Nengah mulai mempelajari angkat berat. Pada 2008 ia meraih medali perak  pada ASEAN Para Games di Thailand. Setahun kemudian ia merebut medali perak di Kuala Lumpur, Malaysia. Tahun berikutnya ia meraih medali emas di Surakarta.. Terakhir tahun 2014 ia menyodok medali perunggu di Kejuaraan Internasional Paralimpik di Dubai, Uni Emirat Arab. Ini merupakan babak kualifikasi menuju kejuaraan dunia Paralympic Games di Brazil tahun ini. Nengah tampil di kelas 40 kg.

 Menembus Batas Dunia Enterpreneur

Bagi Angkie Yudistia,  tunarungu yang disandangnya sejak usia 10 tahun  tak membuatnya pasrah menjalani hidup. Ia  bahkan berhasil menyelesaikan pendidikannya di sekolah umum hingga SMA.  Lebih hebat lagi ia kemudian tamat dari jurusan periklanan di London School of Public Relations(LSPR), Jakarta, dengan indeks prestasi kumulatif 3,5.  Angkie bahkan telah meraih gelar master setelah lulus dari bidang komunikasi pemasaran lewat program akselerasi di tempat yang sama

Semasa kuliah, Angkie pun selalu aktif dalam berbagai kegiatan termasuk bidang yang banyak dianggap sebagai dunia glamor. Ia finalis Abang None mewakili wilayah Jakarta Barat pada 2008. Lalu terpilih sebagai The Most Fearless Female 2008, serta Miss Congeniality sebuah produk kecantikan, serta berbagai prestasi lainnya.  Angkie tergerak untuk memotivasi para penyandang difabel lainnya. Ia bergabung dengan Yayasan Tunarungu Sehijara pada 2009. Ia pun kerap jadi pembicara dan menjadi delegasi Indonesia di berbagai kegiatan internasional di mancanegara yang berkaitan dengan kaum difabel. Pada usia 25 tahun, Angkie menjadi founder dan CEO (chief executive officer) Thisable Enterprise. Perusahaan mempunyai  fokus pada misi sosial, khususnya membantu para penyandang difabel.

"Di balik keterbatasan pasti ada kelebihan. Walaupun aku terbatas mendengar, bukan berarti harus terbatas melakukan apapun…karena setiap masalah pasti ada jalan keluarnya," ungkapnya seraya tersenyum.

Angkie juga sudah  meluncurkan buku berjudul 'Invaluable Experience to Pursue Dream' (Perempuan Tuna Rungu Menembus Batas) akhir 2011 lalu. Pengalaman hidup dan pemikirannya dituangkan lewat karyanya itu. "Buku itu bukan hanya ditujukan untuk penyandang difabel saja, tapi juga teman-teman lainnya yang normal. Kita memang beda, tapi bukan untuk dibedakan," sambungnya.

Teenyata, cantik dari hati mempunyai kekuatan abadi. Melalui perjalanan panjang terus-menerus, kecantikan bisa menembus batas. Alhasil, sesuatu yang impossible menjadi All I'm Possible
Don't judge beauty just by its cover.




Coew30lbluaqfbtndl4w

6 komentar :

  1. Salut sekali dengan ibu ratna yang meski dalsm kondisi lumpuh, beliau tetap menulis lewat lisan yang kemudian ditulis oleh seorang juru ketik.

    Mereka yang bisa positif memandang hidup bahkan bisa menorehkan karya di tengah keterbatasan adalah kecantikan yang sempurna. Padahal yang dituliskan mbak ini kebanyakan mereka menjadi terbatas bukan sejak lahir ya... Salut buat mereka. :)

    BalasHapus
  2. Sosok-sosok yang inspiratif. Dari mereka saya belajar bersyukur dan bijak memaknai taqdir.
    Makasih sharingnya Mba

    BalasHapus
  3. Mreka cantik dg cara mreka sendiri

    BalasHapus
  4. selalu kagum dengan mereka yang dianugrahi kecantikan hati sepeerti ini ya mba

    BalasHapus
  5. terharu campur semangat bacanya. Iya ya mba Liz, kalo cantik dari hati pasti luarnya juga terlihat makin indah :)

    BalasHapus
  6. Wah kumpulan wanita hebat ... Semoga allah menjaga mereka ya mbak :)

    BalasHapus