Jumat, 24 Juni 2016

Memanfaatkan Kemaslahatan Teknologi Informasi Demi Memajukan Negeri


"Rasanya seperti  ada yang kurang, jika sehari tak membuka medsos?".  Begitulah ucapan yang sering kita dengar dari mulut penggila medsos zaman sekarang. Ungkapan yang mulai muncul terutama sejak adanya email, facebook yang dulu hanya bisa diakses melalui komputer. Kini dengan adanya smartphone, yang nyaris bisa melakukan apa saja, ucapan ini tambah tak asing saja.
Revolusi dalam media komunikasi memang sangat dahsyat. Kini boleh dikata setiap orang (dewasa, terutama kaum urban) memiliki alat untuk mengakses media sosial kapan saja.  Menjadi netizen (pengguna net/jaringan media sosial) sudah menjadi gaya hidup. Banyak yang merasa ketinggalan zaman jika tidak mengikuti fenomena ini. Tapi, benarkah demikian? Dan apakah konsekuensinya?
Kemajuan di bidang teknologi komunikasi sering membuat kita keteter.  Untuk dapat terus mengikutinya kita harus selalu mengupdate gadget atau peralatan kita. Netizen harus menyediakan dana yang cukup karena secara berkala mereka harus mengganti alatnya. Bagi yang berkecukupan hal ini tentu tidak menjadi masalah. Tapi bagi yang tidak mampu bagaimana? Yang terjadi adalah ketimpangan.
Mereka yang mampu dapat memanfaatkan media sosial untuk apa saja, mulai dari sekadar ngobrol atau bertukar kabar dengan teman maupun saudara sampai dengan memasang iklan untuk menjual produk secara online.  Atau sekadar curhat?
Media sosial memberi kesempatan kepada setiap orang untuk mengungkapkan perasaan atau ide-ide mereka.  Tapi harus diingat bahwa kita tidak bisa semaunya berbicara melalui media ini. Ingat kasus Prita yang terpaksa harus berurusan dengan pengadilan gara-gara mengungkapkan kekesalannya lewat email kepada teman-temannya? Undang-undang hasutan atau pencemaran nama baik dapat menjerat kita kalau kita kurang hati-hati.
Banyak pengguna medsos memasarkan produk mereka secara online. Bagi mereka ini merupakan cara yang lebih efektif dan murah.  Mereka tidak perlu membuka toko secara fisik karena produk mereka dijual berdasarkan pesanan pembeli. Karenanya untung yang mereka peroleh pun lebih besar. Tapi mereka harus membangun kepercayaan dari pembeli jika ingin tetap eksis. Berjanji akan mengirim produk dalam sehari tetapi barang baru dikirim seminggu kemudian tentunya kurang baik. 
Media sosial juga dapat digunakan untuk menggalang dana bagi korban bencana atau menggalang dukungan bagi calon pejabat publik seperti yang terjadi di sejumlah daerah sekarang ini. Tapi media sosial juga dapat digunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menyebar kebencian dan fitnah. Ini sungguh berbahaya karena banyak orang yang memakan mentah-mentah fitnah itu. 
Sudah pula kita menyaksikan beberapa orang berkumpul di sekeliling meja makan. Tujuan awal mereka adalah makan bersama sambil mengobrol. Tapi apa yang terjadi kemudian? Masing-masing justru asyik dengan gadget mereka. Ini juga bisa terjadi dalam satu keluarga. Di waktu senggang saat semua anggota seharusnya berkumpul di ruang keluarga untuk menceritakan pengalaman mereka hari itu, mereka justru berada di kamar masing-masing sibuk bersilancar di dunia maya. Anak saya sendiri kadang marah kalau saya terlalu lama di depan komputer.  Karena dia anak berkebutuhan khusus, yang tidak bisa menyampaikan maksudnya secara verbal, maka ia sering menutup begitu saja laptop yang sedang saya pakai.Cucu seorang teman saya bahkan sering berusaha merebut HP teman tersebut untuk dibanting jika ia sedang menelepon!
Juga sudah bukan berita baru lagi jika kita mendengar ada orang yang menjadi korban kejahatan berupa penipuan, atau pemerkosaan di mana pelaku dan korban adalah dua orang yang baru saja berkenalan melalui medsos.  Oleh karena itu, kita perlu memberi pengertian, terutama kepada anak-anak, agar jangan terlalu percaya pada orang yang mereka kenal melalui media ini.
Jadi apakah sebaiknya kita menghindari media sosial? Tidak juga. Banyak sekali manfaatnya seperti diuraikan di atas. Tapi agaknya orang yang aksesnya ke medsos terbatas, karena tidak mampu membeli alat yang mahal, agaknya kurang rentan terhadap efek negatifnya. Mungkin saja mereka memang agak ketinggalan zaman, ketinggalan informasi, tapi ini kadang juga jadi semacam berkah. Mereka tidak terlalu pusing dengan segala tetek-bengek soal politik atau ekonomi, tidak terombang-ambing oleh gemuruhnya pertentangan antara pihak DPR dan eksekutif yang belakangan ini sering berkobar. Artinya mereka tetap bisa menikmati hidup seperti sediakala, tak terusik oleh adanya alat-alat canggih yang bagi mereka seperti berada di awang-awang.    

Nah, apakah media sosial itu merupakan berkah atau musibah akan bergantung pada bagaimana kita menggunakan dan menyiasatinya.  Sangat bermanfaat jika kita menggunakannya untuk hal-hal yang positif, namun berbahaya jika digunakan untuk berbuat jahat. Di zaman teknologi komunikasi dan informasi yang sudah sangat maju sekarang ini, kita memang seharusnya tidak boleh tertinggal. Tetapi kita hendaknya juga ikut menjadi pelaku, bukan hanya sekadar penonton.  Artinya kita harus berperan aktif dalam perkembangan ini, ikut menciptakan hardware ataupun software yang bermanfaat bagi siapa saja. Bukan hanya sebagai pengguna, yang hanya akan menguntungkan pihak lain.

Beruntunglah kita mempunyai seorang Khoirul Anwar dari Kediri, Jawa Timur yang berhasil menemukan dan mematenkan konsep dua FFT (Fast Fourier Transform). Konsep ini sekarang digunakan dalam sistem 4G, istilah yang mengacu kepada standar generasi keempat dari teknologi telepon seluler

9 komentar :

  1. Makanya harus bijak dalam memanfaatkan kemajuan iptek era sekarang ini ya.mbak. Biar tidak terjebak kemudaratanšŸ˜„

    BalasHapus
  2. Insya Allah, sosial media bisa menjadi berkah, apalagi kalau dapat memberikan inforamsi penting dan menarik :)

    BalasHapus
  3. Insya Allah, sosial media bisa menjadi berkah, apalagi kalau dapat memberikan inforamsi penting dan menarik :)

    BalasHapus
  4. Internet dan media sosial memang bagai pisau bermata dua, ada sisi positif dan negatifnya tergantung dari mana kita akan memperlakukannya.

    BalasHapus
  5. Yups, sehari tanpa medsos bagai ada yg kurang...

    BalasHapus
  6. wah iya yaa, jangan sampai dikendalikan sama medsos. terimakasih share nya mba :)

    BalasHapus
  7. medsos sudah menjadi kebutuhan
    baik kebutuhan mencari informasi dan bersosialisasi
    asal bisa mengontrol diri saja

    trims sharingnya mbak :)

    BalasHapus
  8. harus cerdas dan bijak kelola medsos dan gadget ya.. kadang diingetin sama si batitaku kalo pas lg asyik di dumay, dia bilang 'Bun... ta(r)uh.. ini ta(r)uh.. "

    BalasHapus
  9. Melihat yang utama yang mana. Apakah bersosialisasi ataukah berselancar :)

    BalasHapus